Selama lebih dari satu dekade, mengikuti Marvel Cinematic Universe (MCU) terasa cukup sederhana. Penonton bisa mengikuti perjalanan Tony Stark sejak Iron Man (2008), menyaksikan kemunculan para Avengers, lalu melihat semuanya mencapai puncak dalam Avengers: Endgame (2019).
Namun, setelah Thanos berhasil dikalahkan, MCU justru berkembang ke arah yang jauh lebih kompleks. Film-film baru bermunculan, serial Disney+ memperkenalkan karakter penting, dan konsep multiverse membuka kemungkinan cerita yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Tidak sedikit penggemar yang akhirnya merasa kehilangan arah. Ada karakter yang tiba-tiba muncul di film bioskop setelah diperkenalkan melalui serial, ada konflik yang baru dibahas kembali beberapa tahun kemudian, dan ada pula cerita yang seolah berjalan sendiri tanpa hubungan yang jelas dengan proyek lainnya.
Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, perjalanan MCU setelah Endgame menyimpan sejumlah benang merah yang menarik. Pergantian generasi superhero, perkembangan multiverse, hingga perubahan besar dalam rencana Marvel perlahan membawa semuanya menuju satu titik: Avengers: Doomsday.
Lantas, bagaimana sebenarnya perjalanan Marvel setelah berakhirnya era Avengers generasi pertama?
1. Endgame Mengakhiri Sebuah Era, tetapi Meninggalkan Banyak Masalah
Avengers: Endgame memang terasa seperti penutup yang sempurna bagi perjalanan panjang para Avengers. Thanos berhasil dikalahkan, miliaran orang yang menghilang akibat jentikan jari akhirnya kembali, dan para pahlawan mendapatkan kesempatan untuk menentukan nasib mereka masing-masing.
Namun, kemenangan tersebut harus dibayar mahal.
Tony Stark mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan alam semesta. Natasha Romanoff meninggal ketika berusaha mendapatkan Soul Stone, sementara Steve Rogers memilih kembali ke masa lalu untuk menjalani kehidupan yang selama ini tidak sempat ia miliki.
Tiga karakter penting yang selama bertahun-tahun menjadi pusat emosional MCU pun tidak lagi berada di garis depan.
Masalah lainnya adalah dampak dari peristiwa yang dikenal sebagai Blip. Ketika Hulk mengembalikan orang-orang yang sebelumnya menghilang, waktu lima tahun yang telah berlalu tidak ikut terhapus.
Sebagian orang sudah membangun kehidupan baru. Hubungan berubah, keluarga terpisah, dan masyarakat harus menyesuaikan diri dengan dunia yang kehilangan separuh populasinya selama lima tahun.
Ketika semua orang kembali, dunia tidak serta-merta bisa kembali seperti semula.
Marvel akhirnya memiliki persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari penjahat berikutnya. Mereka harus menjelaskan bagaimana dunia berjalan setelah kehilangan para pahlawan legendaris, siapa yang akan meneruskan warisan mereka, dan apa arti Avengers ketika para pendirinya sudah meninggal atau pensiun.
Karena itulah, proyek-proyek awal setelah Endgame terasa lebih personal. Marvel tidak langsung menghadirkan ancaman sebesar Thanos, melainkan mulai membangun kembali dunia dan memperkenalkan generasi pahlawan berikutnya.
2. WandaVision dan Falcon and the Winter Soldier Menjadi Awal Pergantian Generasi
Salah satu contoh paling jelas terlihat dalam WandaVision.
Serial ini tidak sekadar menceritakan Wanda Maximoff yang memiliki kekuatan besar. Ceritanya berpusat pada kesedihan Wanda setelah kehilangan Vision dan masa depan yang ingin ia bangun bersama orang yang dicintainya.
Kehilangan tersebut membuat Wanda menciptakan realitas palsu yang terinspirasi dari berbagai era sitkom televisi. Sebuah kota terperangkap dalam dunia yang dibangun berdasarkan keinginannya sendiri, sementara kesedihan yang tidak mampu ia terima perlahan mengambil alih kendalinya.
Pada akhir cerita, Wanda dikenal sebagai Scarlet Witch. Serial ini juga memperkenalkan Billy dan Tommy sebagai bagian penting dari kisah keluarganya.
Kisah tersebut kemudian membuka kemungkinan perkembangan karakter Wanda di masa depan, terutama setelah kekuatannya semakin sulit dipisahkan dari ancaman terhadap realitas.
Sementara itu, The Falcon and the Winter Soldier membahas persoalan yang berbeda, tetapi masih berhubungan dengan warisan para Avengers.
Steve Rogers telah menyerahkan perisainya kepada Sam Wilson. Namun, menerima sebuah benda tidak otomatis berarti seseorang siap menerima tanggung jawab yang menyertainya.
Pemerintah bahkan menunjuk John Walker sebagai Captain America versi resmi. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa simbol Captain America bukan hanya persoalan kekuatan atau keberanian, tetapi juga menyangkut politik, kepercayaan publik, dan siapa yang dianggap pantas mewakili sebuah negara.
Sam akhirnya harus menentukan sendiri apa arti menjadi Captain America.
Pola serupa terlihat dalam Black Widow dan Hawkeye. Yelena Belova diperkenalkan sebagai karakter yang melanjutkan sebagian warisan Natasha Romanoff, sedangkan Kate Bishop hadir sebagai pemanah muda yang memiliki hubungan dengan Clint Barton.
Jika diperhatikan, proyek-proyek ini memiliki satu benang merah yang sama: Marvel sedang mempersiapkan penerus bagi karakter-karakter lama.
Pergantian generasi tersebut memang tidak terjadi dalam satu film besar. Marvel membangunnya melalui cerita personal yang perlahan memperkenalkan tokoh-tokoh baru kepada penonton.
3. Loki Mengubah Cara MCU Memahami Waktu dan Multiverse
Jika proyek-proyek awal setelah Endgame berfokus pada pergantian generasi, serial Loki justru membawa MCU menuju perubahan yang lebih mendasar.
Hal penting yang perlu dipahami adalah Loki dalam serial tersebut bukan Loki yang meninggal di tangan Thanos dalam Avengers: Infinity War.
Ia merupakan Loki dari tahun 2012 yang berhasil melarikan diri menggunakan Tesseract saat peristiwa perjalanan waktu dalam Avengers: Endgame.
Pelarian tersebut membawanya ke Time Variance Authority atau TVA, sebuah organisasi yang mengawasi garis waktu dan menangani penyimpangan dalam alur waktu.
Dari sinilah MCU mulai memperlakukan waktu sebagai sesuatu yang memiliki struktur, aturan, dan konsekuensi yang jauh lebih rumit daripada sebelumnya.
Konflik Loki dan Sylvie kemudian memperkenalkan sosok He Who Remains, yang mengungkapkan bahwa ia telah mengendalikan berbagai kemungkinan realitas untuk mencegah munculnya perang multiversal.
Sylvie akhirnya membunuh He Who Remains. Keputusan tersebut menjadi titik balik karena membuka jalan bagi berkembangnya berbagai cabang realitas.
Multiverse tidak lagi hanya menjadi gagasan bahwa ada dunia lain dengan versi karakter yang berbeda. Konsep ini mulai menjadi fondasi bagi cerita-cerita MCU berikutnya.
Pada musim kedua, perjalanan Loki mendapatkan penutup yang tragis sekaligus megah. Setelah berbagai upaya gagal, Loki mengambil tanggung jawab untuk mempertahankan cabang-cabang realitas yang terancam runtuh.
Karakter yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai dewa penipu dan pembuat kekacauan akhirnya memperoleh kedudukan yang sangat besar dalam struktur multiverse, tetapi harus membayarnya dengan keterasingan.
Perkembangan ini penting karena memberikan konteks bagi berbagai kejadian yang muncul setelahnya.
Ketika batas antara realitas mulai terbuka, masalah yang dihadapi para superhero tidak lagi terbatas pada satu kota, satu planet, atau satu alam semesta.
4. Spider-Man dan Doctor Strange Memperlihatkan Bahaya Multiverse
Setelah konsep multiverse diperkenalkan melalui Loki, Marvel mulai mengeksplorasi konsekuensinya melalui film-film lain.
Dalam Spider-Man: Far From Home, Peter Parker masih berusaha menghadapi kehilangan Tony Stark. Ia merasa tertekan oleh ekspektasi publik yang menginginkannya menjadi penerus Iron Man.
Peter bukan sekadar harus menghadapi penjahat baru. Ia juga harus menentukan identitasnya sendiri di tengah dunia yang masih berduka atas kehilangan seorang pahlawan besar.
Konflik tersebut berlanjut dalam Spider-Man: No Way Home.
Keinginan Peter untuk memperbaiki keadaan justru berujung pada kekacauan setelah mantra Doctor Strange tidak berjalan sesuai rencana. Batas antara semesta mulai terbuka dan karakter dari film Spider-Man terdahulu ikut masuk ke dalam cerita.
Kehadiran Tobey Maguire dan Andrew Garfield menjadi salah satu momen paling berkesan karena mempertemukan tiga versi Spider-Man dalam satu film.
Namun, di balik unsur nostalgia tersebut, terdapat konsekuensi emosional yang besar. Peter akhirnya memilih menghapus dirinya dari ingatan orang-orang yang dicintainya demi melindungi mereka.
Ia berhasil menyelamatkan keadaan, tetapi harus menjalani kehidupan yang jauh lebih sepi.
Jika No Way Home memperlihatkan kemungkinan menarik dari multiverse, Doctor Strange in the Multiverse of Madness menunjukkan sisi gelapnya.
Wanda, yang masih dihantui kehilangan, berusaha menemukan anak-anaknya di realitas lain. Keinginannya tersebut mendorongnya melakukan tindakan ekstrem dan membahayakan orang-orang dari semesta berbeda.
Multiverse yang sebelumnya terlihat seperti arena bermain dengan berbagai kemungkinan akhirnya berubah menjadi ancaman nyata.
Melalui What If...?, Marvel juga memperluas gagasan bahwa satu keputusan berbeda dapat menghasilkan dunia dengan kondisi yang sama sekali lain.
Ketiga proyek tersebut memperlihatkan perkembangan yang saling berkaitan. Multiverse bisa menghadirkan kembali karakter lama, tetapi juga membawa konsekuensi yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh para pahlawan.
5. Mengapa Banyak Proyek MCU Terasa Berjalan Sendiri-sendiri?
Salah satu kritik yang sering muncul terhadap MCU setelah Endgame adalah kurangnya hubungan yang terasa langsung antara satu proyek dan proyek lainnya.
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, misalnya, memperkenalkan artefak misterius yang berpotensi memiliki hubungan dengan cerita lebih besar. Eternals menghadirkan Tiamut, Celestial yang tubuhnya muncul dari dalam Bumi, sedangkan Black Panther: Wakanda Forever memperkenalkan Namor dan kerajaan Talokan.
Masing-masing proyek memiliki konflik utama sendiri. Karena itu, penonton bisa merasa sedang mengikuti beberapa cerita berbeda yang belum jelas akan bertemu di mana.
Namun, ada perbedaan antara sebuah cerita yang tidak memiliki hubungan sama sekali dan cerita yang hubungannya belum dikembangkan secara langsung.
Marvel terkadang menanamkan elemen cerita jauh sebelum menggunakannya kembali. Konsekuensinya, penonton harus menunggu cukup lama untuk mengetahui apakah sebuah petunjuk memang akan menjadi bagian penting dari konflik yang lebih besar.
Masalahnya, jeda panjang tersebut dapat mengurangi rasa keterhubungan.
Ketika sebuah elemen baru kembali dibahas beberapa tahun kemudian, sebagian penonton mungkin sudah lupa bagaimana elemen itu pertama kali diperkenalkan.
Selain itu, Marvel memperluas ceritanya melalui dua medium sekaligus: film bioskop dan serial streaming. Karakter yang muncul dalam serial bisa memiliki perkembangan penting sebelum kembali tampil dalam film.
Pendekatan tersebut memperluas dunia MCU, tetapi juga meningkatkan beban bagi penonton yang ingin mengikuti seluruh alur ceritanya.
Dengan kata lain, persoalannya bukan selalu karena Marvel tidak memiliki rencana. Sebagian tantangannya justru berasal dari banyaknya cerita yang dikembangkan secara bersamaan dan panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk mempertemukan semuanya.
6. Perubahan Rencana Marvel Membuat Arah Cerita Ikut Berubah
Di tengah perkembangan multiverse, Marvel awalnya membangun ancaman besar melalui Kang the Conqueror.
Karakter tersebut diperkenalkan sebagai sosok yang memiliki hubungan dengan berbagai garis waktu dan kemungkinan menjadi ancaman utama bagi para Avengers. Perkembangannya terlihat dalam serial Loki dan film Ant-Man and the Wasp: Quantumania.
Rencana awal Marvel bahkan mengarah pada film Avengers: The Kang Dynasty.
Namun, situasinya berubah setelah Jonathan Majors menghadapi persoalan hukum pada 2023 dan kemudian diberhentikan oleh Marvel. Perubahan tersebut membuat arah proyek Avengers berikutnya ikut bergeser.
Marvel kemudian mengumumkan Avengers: Doomsday sebagai film berikutnya dalam rangkaian Avengers dan menunjuk Robert Downey Jr. untuk memerankan Doctor Doom.
Keputusan tersebut menjadi salah satu perubahan paling mencolok dalam sejarah MCU modern.
Downey sebelumnya dikenal sebagai Tony Stark, karakter yang menjadi pusat perjalanan MCU sejak Iron Man pada 2008. Kini, ia kembali ke waralaba yang sama dengan memerankan sosok yang justru berpotensi menjadi ancaman besar bagi para superhero.
Dari sisi pemasaran, keputusan ini langsung menarik perhatian penggemar. Dari sisi cerita, keputusan tersebut juga menghadirkan tantangan besar: Marvel perlu membuat Doctor Doom berdiri sebagai karakter yang berbeda, bukan sekadar Tony Stark dengan kostum dan identitas baru.
Perubahan arah dari Kang menuju Doom juga berarti Marvel harus memastikan bahwa cerita-cerita yang sudah dibangun sebelumnya tetap memiliki tempat dalam perkembangan MCU berikutnya.
Seberapa besar perubahan itu akan memengaruhi cerita akhirnya masih harus dilihat melalui film yang dirilis.
7. Fantastic Four dan X-Men Memperluas Pertemuan Antargenerasi
Perjalanan menuju Avengers: Doomsday tidak hanya berhubungan dengan Loki dan Doctor Strange. Marvel juga memperluas cakupan dunianya dengan menghadirkan kelompok superhero yang sebelumnya belum menjadi bagian utama MCU.
The Fantastic Four: First Steps memperkenalkan keluarga superhero yang memiliki sejarah panjang dalam komik Marvel. Kehadiran mereka menjadi penting karena Doctor Doom secara historis memiliki hubungan erat dengan Fantastic Four, terutama dengan Reed Richards.
Sementara itu, karakter-karakter X-Men dari film terdahulu mulai mendapatkan ruang untuk kembali terlibat dalam cerita multiverse.
Hal tersebut menciptakan peluang bagi Marvel untuk mempertemukan kelompok superhero yang selama bertahun-tahun berkembang dalam kontinuitas film berbeda.
Pertemuan semacam ini tidak hanya menawarkan nostalgia. Setiap kelompok memiliki sejarah, hubungan, dan cara pandang yang berbeda terhadap ancaman yang mereka hadapi.
Avengers mungkin terbiasa bekerja sebagai tim untuk melindungi Bumi, sedangkan X-Men memiliki pengalaman panjang menghadapi konflik yang berkaitan dengan identitas mutan dan penerimaan masyarakat.
Fantastic Four juga membawa dinamika keluarga yang berbeda dari kelompok superhero lainnya.
Jika ketiganya benar-benar harus menghadapi ancaman yang sama, konflik yang muncul tidak harus selalu berupa pertarungan melawan musuh. Perbedaan cara pandang dan prioritas di antara mereka juga bisa menjadi bagian penting dari cerita.
8. Avengers: Doomsday Bisa Menjadi Titik Pertemuan Semua Benang Merah
Dengan berbagai kelompok superhero dan konsep multiverse yang telah diperkenalkan, Avengers: Doomsday berpotensi menjadi titik pertemuan dari banyak cerita yang berkembang setelah Endgame.
Film ini dijadwalkan tayang pada 18 Desember 2026 dan menempatkan Doctor Doom sebagai tokoh sentral dalam konflik berikutnya.
Ancaman yang dihadapi para pahlawan berpotensi mempertemukan Avengers, Fantastic Four, X-Men, dan karakter-karakter dari berbagai bagian MCU.
Jika sebelumnya setiap proyek lebih banyak berfokus pada perkembangan karakter masing-masing, film ini memiliki kesempatan untuk menunjukkan bagaimana perkembangan tersebut memengaruhi konflik berskala lebih besar.
Namun, tantangan Marvel juga semakin berat. Semakin banyak karakter yang terlibat, semakin sulit pula membagi waktu layar dan memberikan alasan yang meyakinkan mengapa mereka semua harus berada dalam cerita yang sama.
Marvel perlu memastikan bahwa pertemuan para superhero bukan sekadar parade karakter terkenal. Setiap tokoh harus memiliki fungsi yang jelas dalam cerita, sementara Doctor Doom perlu dibangun sebagai ancaman yang layak menghadapi kelompok dengan kekuatan sebesar itu.
Setelah Doomsday, perhatian juga akan tertuju pada Avengers: Secret Wars, yang direncanakan melanjutkan konflik besar tersebut.
Ada kemungkinan rangkaian film ini akan mengubah susunan dunia MCU secara signifikan. Namun, bentuk akhir perubahan itu masih belum dapat dipastikan sebelum Marvel mengungkapkan lebih banyak detail resmi.
9. Marvel Perlu Menemukan Cara Baru agar Penonton Tidak Kehilangan Arah
Jika seluruh perjalanan setelah Endgame ditarik menjadi satu garis besar, ada empat hal yang terlihat jelas.
Pertama, Marvel sedang mempersiapkan pergantian generasi superhero. Kedua, dunia MCU diperluas dengan memperkenalkan kelompok dan karakter baru. Ketiga, konsep multiverse mengubah aturan dasar realitas dalam cerita. Keempat, semua perkembangan tersebut berpotensi dipertemukan melalui rangkaian film Avengers berikutnya.
Masalahnya, keempat hal itu berkembang secara bersamaan, melalui banyak film dan serial, dengan jeda cerita yang terkadang cukup panjang.
Bagi penonton yang mengikuti setiap proyek, pendekatan tersebut bisa memberikan pengalaman yang luas dan penuh detail. Namun, bagi mereka yang hanya menonton film bioskop, beberapa perkembangan penting mungkin terasa muncul secara tiba-tiba.
Inilah salah satu tantangan terbesar Marvel setelah keberhasilan Infinity Saga: bagaimana mempertahankan dunia cerita yang saling terhubung tanpa membuat penonton merasa wajib mengikuti setiap proyek untuk memahami cerita utamanya.
Avengers: Doomsday dan Avengers: Secret Wars memiliki kesempatan untuk menjawab tantangan tersebut. Keduanya dapat mempertemukan berbagai alur cerita sekaligus menentukan arah baru bagi MCU.
Tetapi, keberhasilan akhirnya tidak hanya bergantung pada besarnya pertarungan atau banyaknya karakter yang muncul. Marvel juga perlu memberikan penutup yang memuaskan bagi cerita lama dan fondasi yang jelas bagi cerita baru.
Kesimpulan
MCU setelah Avengers: Endgame sebenarnya memiliki sejumlah benang merah yang menarik. Pergantian generasi terlihat melalui Sam Wilson, Yelena Belova, dan Kate Bishop. Perkembangan multiverse dibangun melalui Loki, Spider-Man: No Way Home, dan Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Sementara itu, kehadiran Fantastic Four, X-Men, dan Doctor Doom membuka peluang bagi pertemuan antarkelompok superhero dalam skala yang lebih besar.
Alasan perjalanan ini terasa berantakan bukan semata-mata karena tidak ada hubungan ant cerita. Banyak perkembangan justru membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan kaitannya, sementara Marvel terus memperluas dunianya melalui berbagai film dan serial.
Kini, Avengers: Doomsday menjadi salah satu proyek paling penting untuk melihat apakah semua perkembangan tersebut dapat dirangkai menjadi cerita yang kuat.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan sekadar siapa yang akan mengalahkan Doctor Doom. Pertanyaannya adalah apakah Marvel mampu membuat perjalanan panjang setelah Endgame terasa berarti, sekaligus memberikan alasan baru bagi penonton untuk kembali mengikuti MCU.